Weather (state,county)

Breaking

Kamis, 06 April 2017

Cerpen Anak IMM "[Bukan] Kisah Kasih Kim Sam Din dan Park Sya Da"


Sebuah cerpen dipersembahkan untuk PK IMM Dakwah tercinta
By Anita Sartika
---
Alkisah…
kalau berteman dengan penjual minyak wangi, maka kau akan kecipratan wanginya. Kalau berteman dengan pandai besi, maka kau akan kecipratan apinya. Kadang aku bertanya-tanya, mungkinkah mereka penjual minyak wangi, lantas merk apa?
mereka adalah orang diujung waras, kadang sehat kadang gila. Kadang bikin bertanya-tanya, “kenapa Allah persatukan kami?”. Sekelompok anak yang bangga menamai diri mereka, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah .
 terdengar seseorang berteriak “Salam Ikatan!”
            ---
            Pagi itu suasana hening. Disebuah rumah disalah satu sudut kota Bantul. Wajah mereka tampak kelelahan, melanjutkan tidur barang sejenak usai sholat subuh. Ada yang tidur dikursi depan, kaki dikepala kepala dikaki, ada yang didepan tipi, ada pula yang beruntung tidur diatas kasur. Beberapa jam yang lalu, mereka duduk bersama, bertukar ide dengan kepala terkantuk-kantuk. Saling mengkritik, saling memberi masukan, saling bertanya, saling mendebat, dan saling menawarkan makanan. Berjam-jam mereka melakukan itu, pada malam minggu, inilah kisah tentang sekelompok anak muda. Dan syukurnya, aku ada diantara mereka.
            “jam 8 nanti kita mulai agenda ya. 2 orang mau ada kegiatan diluar, jadi kita take video aja dulu. Habis itu baru LPJan” kataku menganggu istirahat teman-teman pagi itu “kalau mau mandi, antri dari sekarang. Pokonya jam 8 take video! Atur waktu masing-masing yaaaaaa”
            “LPJan berapa lama Mba Nit?” Tanya Dinda
            “kita pulang nanti jam berapa?” Tanya anak yang lain
            “nanti aku pergi dulu ya, ngak ikut LPJan. Ada agenda yang ngak bisa ditinggalkan, maaf banget” kata Syada
            “btw, Mas Rois ultah hari ini” sambung yang lain
            “oya?”
            “wah, Alhamdulillah makin tua” sambung yang lain pula.
            ---
            Menjadi IMM adalah satu kebahagiaan. Dipertemukan dengan keluarga baru, yang agak-kadang-kadang ngak waras. Mungkin hidup memang seperti ini, menjadi serius tidak berarti harus melulu diam menekuri program kerja. Sedikit bersandiwara akan lebih asik rasanya. Dan PK IMM Fakultas Dakwah adalah sang juara untuk bersandiwara.
            Bagi kami, ikatan tidak hanya tempat berproses mendewasakan diri. Tidak pula hanya sebagai tempat belajar menjauhkan egoisme diri. Pun tidak sekedar tempat belajar berani bicara dihadapan orang lain. ikatan adalah sebuah keluarga berencana, setidaknya itulah yang disampaikan oleh ketua, immawan Ence Sofyan. Karenanya, IMM jauh dari hanya sekedar organisasi. Kami adalah keluarga baru yang dipertemukan. Seperti yang Imam Syafii pernah katakana “merantaulah nak. Kelak kau akan menemukan pengganti keluarga dan kerabat!”. Oh mengapa harus mereka yang menjadi penggantinya.
            “Rois ultah. Nanti beliin birthday cake” sebuah pesan whatsapp melayang dari hapeku ke hp Syada
            “loh. Dia ultah? Yaelah acting lagi si Kim Sam Din nanti” pesan Syada dari ujung sana
            Kim Sam Din. Nama aslinya Samsudin. Dia adalah immawan yang nggak tinggi-tinggi banget tapi punya suara yang agak ngeri kalo lagi acting. Dia ini keluaran pondok pesantren, kuliah dijurusan Manajemen dan bakat jadi peran antagonis. Beberapa kali kebagian jatah acting marah-marah, sebut saja ketika muskom satu tahun lalu. Ngeri sekali. Suasana tegang sekali ketika dia teriak-teriak kayak orang kesurupan.
            “kursinya patah!!” teriak seseorang dari teras rumah
            “loh ini kenapa bisa sampe kayak gini?” Tanya Ence Sofyan
            Wea, Sam, Ucup, Amel, dan Alfi saling bertatapan
            “aku lagi duduk. Terus Sam narik kursi.” Jawab Wea “ini loh Sam iseng banget!!”
            “Loh, aku ngak sengaja” kilah Sam
            Suasana sempat tegang ketika mereka saling bertatapan. Entah takut atau khawatir, atau sedang mikir berapa banyak duit untuk mengganti kursi jati yang patah.
            “yasudah. Nanti Sam bilang ke Syada. Minta maaf. Dan cari solusi untuk bertanggung jawab!” ujar Ence.
---
            Syada pulang dari pertemuan pentingnya di kampus. Wajahnya tampak lelah. Mukanya kusut barangkali karena kecapean. Setibanya di garasi rumah, dia langsung disambut dengan tatapan anak-anak PK. Beberapa immawati saling senggol-senggolan tangan. Ence melirik Sam, sebagai kode agar Sam langsung bicara.
            “Sad. Mohon maaf sebelumnya. Tadi kita enggak sengaja matahin kursi.” Ujar Sam agak-agak takut tetapi masih sok cool.
            “loh, kok isoo? Astagfirullah” Syada tampak agak sedikit syok.
            “maaf banget Sad. Nanti aku tanggung jawab” ujar Sam lagi, dia tampak merasa bersalah
            “hmmm…” Syada menghela nafas panjang “yasudah. Kamu tolong cari toko kayu dan Tanya lem yang paling bagus untuk kursi jati. Kita coba lem aja dulu. Kalo nanti enggak memungkinkan, baru bawa ke toko kayu”
            Sam ditemani Ucup langsung melaju dengan motor pergi menghilang dari rumah Syada
---
            Suasana tegang. Syada duduk di depan pintu. Wajahnya kusut, bisa dipastikan dia lelah sekali. Anak-anak yang lain beberapa hanya diam. Mungkin takut, mungkin juga kecapekan. Ence selaku ketua berusaha mencairkan suasana
            “Sad, aku ngewakilin teman-teman yang lain minta maaf ya. Sudah ngerepotin kamu. Ini Insya Allah Sam bakalan bertanggung jawab kok”
            “hmm… yayayaaa” jawab Syada, masih dengan muka kusutnya.
            Semenit berselang, suara motor Sam dan Ucup pun kedengaran. Sam masuk ke ruang tamu dengan tergesa-gesa. Wajahnya tidak bisa dideskripsikan. Lebih jelek dari biasanya.
            “Sadddd!!! Kata tukang kayu, ngak ada lem yang bisa benerin kayu jati yang patah. Pokoknya aku udah tanggung jawab! Aku udah usaha nyari. Tapi enggak ada. Dan aku ngak mau keluar nyari lem lagi. Panas!!!!” ujar Sam marah-marah.
            “loh, kok kamu yang marah-marah?” Tanya Syada, tampaknya mulai geram
            “Loh Sam, kamu harus tanggung jawab loh!” Ence lagi-lagi menengahi
            “aku capek!!!! Kalo mau tanggung jawab, sana kalian saja! diluar panas bangeettt!!!”
            “loh. Kamu kok gitu sihh Sam. Katanya aktivis. Percuma aja kita RTPan berjam-jam bahas proker kalo untuk tanggung jawab sekecil ini aja kamu ngak bisa!” kataku akhirnya bersuara.
            “TERSERAH! AKU CAPEK!” Sam makin menjadi-jadi. Ini anak kok asem banget gini sih??
            “KALO MAU TANGGUNG JAWAB, SANA KALIAN YANG KELUAR!” teriak Sam pada akhirnya
            Aku, Ence, Uzi, Syada, Amel, Alfi, dan yang lain saling bertatapan.
            “yaudah Zik. Ayok kita yang cari toko kayu. Sad, dimana kira-kira tokonya?”
            Syada pun menjelaskan ancer-ancer. Lurus, belok kanan, belok kiri, lurus, lampu merah.
            Aku dan Uzi pun beranjak keluar.
           
---
            Ketika Uzi sudah menghidupkan motor. Ence dan Sam menemui kami.
            “kalian kenapa sih? Kita itu Cuma lagi acting! Kalian ngak tau po kalo Rois ultah?” Tanya Sam nahan ketawa
            “HAAAH?? Acting?” tanyaku dan Uzi kompak “gila, separah ini acting?”
            “iya. Aku udah dapet lem tadi pas keluar. Yaudah kalian pura-pura keluar aja dulu!”
            Bersambung-----


Tidak ada komentar:

Posting Komentar