Weather (state,county)

Breaking

Selasa, 26 November 2013

Pergolakan Mahasiswa dan Gerakan Mahasiswa



Oleh : AR. Irfan Zakki F[*]

            Sangat menarik untuk dibicarakan jika kita berbicara mahasiswa, karena mahasiswa adalah predikat yang amat “eksklusif”. Disebut eklsusif karena mahasiswa adalah sosok yang istimewa dipandang dari sudut apapun dan dari manapun serta mempunyai cerita yang istimewa dari masa ke masa, baik di Negara maju maupun di Negara berkembang begitu juga halnya dengan mahasiswa di Indonesia. Di Indonesia sendiri mahasiswa mempunyai peranan penting dalam mengubah sejarah kebangsaan dan perjalanan demokrasi. Jauh beberapa tahun kebelakang kita mengenal angkatan gerakan kemahsiswaan dengan segala momentum sejarah kebangsaan di tanah air. Mulai dari peristiwa proklamasi kemerdekaan,
 Berbicara masalah mahasiswa, tidak telepas dari pergerakan mahasiswa. Sejarah pergerakan mahasiswa dengan pemerintah dan elite politik sudah berlangsung sejak lama. Tahun 1966, misalnya, mahasiswa secara lantang menyuarakan isu Tritura. Kemudian tahun 1970 mahasiswa melakukan aksi menentang kenaikan harga minyak serta budaya korupsi di tubuh pemerintahan. Selanjutnya, mahasiswa juga kencang menggugat berbagai persoalan yang dinilai sepihak, tidak adil, dan tidak demokratis seperti Peristiwa Malari (1974), kebijakan pembekuan Dewan Mahasiswa (1978), asas tunggal Pancasila (1984), dan SDSB (1988).
Berbeda dengan partai poltik  yang berorientasi kekuasaan, gerakan mahasiswa memperjuangkan nilai-nilai (values) yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Gerakan mahasiswa adalah seperangkat kegiatan mahasiswa yang bergerak menentang dan mempersoalkan realitas objektif yang dianggap bertentangan dengan realitas subjektif mereka. Hal itu termanifestasikan melalui aksi-aksi politik dari yang bersifat lunak hingga sangat keras seperti penyebaran poster, tulisan di media massa, diskusi-diskusi politik, lobi, dialog, petisi, mogok makan, mimbar bebas, pawai di kampus, mengunjungi lembaga kenegaraan, turun ke jalan secara massal, perebutan dan pendudukan fasilitas-fasilitas strategis seperti lembaga kenegaraan, stasiun radio serta televisi, dan lain-lain. Mahasiswa mengambil pilihan itu karena merasakan dan memahami bahwa ada nilai-nilai yang "suci" atau "ideal" dan bahkan "universial" yang mengalami ancaman khususnya karena kebijakan pemerintah. Mahasiswa berdemonstrasi karena menemukan banyak gejala atau praktik yang hendak menggusur dan bahkan membunuh nilai-nilai tersebut.
Kehadiran gerakan mahasiswa sebagai perpanjangan aspirasi rakyat dalam situasi yang demikian itu memang sangat dibutuhkan sebagai upaya pemberdayaan kesadaran politik rakyat dan advokasi atas konflik-konflik yang terjadi pada penguasa. Secara umum, advokasi yang dilakukan lebih ditujukan pada upaya penguatan posisi tawar rakyat maupun tuntutan-tuntutan atas konflik yang terjadi menjadi lebih signifikan. Dalam memainkan peran yang demikian itu, motivasi gerakan mahasiswa lebih banyak mengacu pada panggilan nurani atas kepeduliannya yang mendalam terhadap lingkungannya serta agar dapat berbuat lebih banyak lagi bagi perbaikan kualitas hidup bangsanya.
 Mahasiswa dan gerakannya yang senantiasa mengusung panji-panji keadilan, kejujuran, selalu hadir dengan ketegasan dan keberanian. Walaupun memang tak bisa dipungkiri, faktor pemihakan terhadap ideologi tertentu turut pula mewarnai aktifitas politik mahasiswa yang telah memberikan kontribusinya yang tak kalah besar dari kekuatan politik lainnya. Mahasiswa yang merupakan sosok pertengahan dalam masyarakat yang masih idealis namun pada realitasnya terkadang harus keluar dari idealitasnya. Pemihakan terhadap ideologi tertentu dalam gerakan mahasiswa memang tak bisa dihindari. Pasalnya, pada diri mahasiswa terdapat sifat-sifat intelektualitas dalam berpikir dan bertanya segala sesuatunya secara kritis dan merdeka serta berani menyatakan kebenaran apa adanya. Sebuah konsep yang cukup ideal bagi sebuah pergerakan mahasiswa walau tak jarang pemihakan-pemihakan tersebut tidak pada tempatnya.
Masa selama studi di kampus merupakan sarana penempaan diri yang telah merubah pikiran, sikap, dan persepsi mereka dalam merumuskan kembali masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya. Kemandegan suatu ideologi dalam memecahkan masalah yang terjadi merangsang mahasiswa untuk mencari alternatif ideologi lain yang secara empiris dianggap berhasil. Maka tak jarang, kajian-kajian kritis yang kerap dilakukan lewat pengujian terhadap pendekatan ideologi atau metodologis tertentu yang diminati. Tatkala, mereka menemukan kebijakan publik yang dilansir penguasa tidak sepenuhnya akomodatif dengan keinginan rakyat kebanyakan, bagi mahasiswa yang committed dengan mata hatinya, mereka akan merasa "terpanggil" sehingga terangsang untuk bergerak. Kedekatannya dengan rakyat terutama diperoleh lewat dukungan terhadap tuntutan maupun selebaran-selebaran yang disebarluaskan dianggap murni pro-rakyat tanpa adanya kepentingan-kepentingan lain mengiringinya. Adanya kedekatan dengan rakyat dan juga kekuatan massif mereka menyebabkan gerakan mahasiswa bisa bergerak cepat berkat adanya jaringan komunikasi antar mereka yang aktif layaknya bola salju, semakin lama semakin besar. Oleh sebab itu, mahasiswa selalu menjadi motor penggerak perubahan dalam sebuah peradaban.
Namun, pasca reformasi kepedulian dan eksistensi mahasiswa terhadap isu-isu yang terjadi disekitarnya mengalami degradasi yang cukup signifikan. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab masalah tersebut. Yang pertama adalah kondisi masyarakat yang sudah jauh berbeda dengan kondisi di masa lampau. Ada pergeseran nilai-nilai dalam masyarakat yang menyebabkan perbedaan tersebut. Demonstrasi sudah tidak lagi mendapat respek dari masyarakat karena dianggap sebagai tunggangan politik beberapa elit tertentu. Pergerakan mahasiswa yang dianggap murni tanpa disadari ternyata ada kepentingan lain di belakangnya. Demokrasi titipan, begitu stigma masyarakat terhadap gerakan mahasiswa saat ini. Sedangkan apabila demonstrasi dilaksanakan murni aspirasi rakyat dan untuk kepentingan mereka, maka banyak orang akan beranggapan “Apa sih yang mereka dapatkan dari unjuk rasa? Udah panas, tambah bikin macet jalanan ibukota.”adanya stigma premanisme gerakan mahasiswa, parlemen jalanan bukan pilihan utama penyampaian aspirasi rakyat.
Kemudian perkembangan budaya hedonisme dan konsumerisme barat juga mulai menggerus budaya kritis mahasiswa yang biasanya menghasilkan idealisme-idealisme cemerlang. Mahasiswa lebih sibuk melakukan internalisasi diri dibandingkan melakukan kajian mengenai isu-isu yang menyangkut kemaslahatan orang banyak. Arah pergerakan sudah tidak lagi tentang bagaimana memperjuangkan kepentingan orang banyak, melainkan keuntungan apa yang dapat mereka peroleh dari situasi tertentu. Hal ini tentu saja menurunkan daya pikir mahasiswa untuk menyerukan idealisme-idealisme mereka yang terkenal kritis karena berani melawan kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan masyarakat. Padahal idealisme untuk mempertanyakan benar atau salah itulah yang harus dijaga dalam pengawalan proses demokrasi di Indonesia.
Berikutnya adalah tidak adanya strategi yang jelas dalam gerakan mahasiswa itu sendiri. Padahal hal tersebut sangat penting untuk menentukan arah pergerakan. Dibutuhkan perhitungan-perhitungan yang taktis dan matang untuk mengiringi idealisme-idealisme para intelektual muda ini. Terlebih sudah bukan saatnya pergerakan mahasiswa bergantung pada momentum yang sedang memanas karena hal itu hanya akan membawa gerakan mahasiswa cenderung statis. Akibatnya, pergerakan menjadi mudah sekali dibaca, dikendalikan dan akhirnya dimanfaatkan oleh golongan tertentu yang tidak bertanggung jawab.
Sampai detik ini, ada sebuah tuntutan yang harus digulirkan kepada gerakan mahasiswa itu sendiri, khususnya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Mengenai bagaimana mengembalikan ruh, dalam hal ini idealisme, kepada para mahasiswa agar kembali ke ranah pergerakan yang lebih sistematis, kritis dan independen. Pergerakan mahasiswa hingga saat ini masih bergulir. Namun tentu saja pergerakan tersebut dilakukan sesuai dengan perkembangan jaman. Dialog dan audiensi dengan pihak-pihak terkait bisa menjadi jalan tengah dalam pergerakan mahasiswa di masa sekarang. Tanggung jawab sebagai intelektual untuk menganalisa permasalahan yang ada serta memberikan solusi terbaik dalam penyelesaiannya mengingat eksistensi pergerakan mahasiswa di jaman seperti sekarang sangat bergantung pada hal tersebut. Tanpa adanya beban moral kepada siapapun, idealisme mahasiswa adalah senjata utama dalam melakukan gerakan.[]







[*] Penulis adalah Ketua PK IMM Dakwah-Ishum 2009-2010 dan Ketua Bidang Hikmah PC IMM Kab. Sleman   2010-2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar